SETIAP ORANG PASTI INGIN TOKONYA RAPI DAN TIDAK PERLU PUSING HITUNG HASIL PENJUALAN

Hai ..... paket superpromo 2018 masih berlangsung. Untuk mendapatkan harga terbaik diluar event promo silahkan kontak kami via WA 088216404528. Terimakasih

Nasib Toko Retail Tradisional Bila Tak Berbenah Diri Akan Tergerus Toko Modern?

Dahulu Era Tahun 2000-an ke bawah, kebanyakan Toko masih dengan layanan tradisional.

Komputer Kasir lengkap dengan software kasir
Profil Toko kelontong. Sumber Gambar :
http://2.bp.blogspot.com/
-qBnzYgQdbFQ/UmI0AwXkxtI
/AAAAAAAAADQ/
8yT8zUVfvf4/s1600/
21316_2499462343179
_2095853786_n.jpg

Nasib Toko Retail Tradisional Bila Tak Berbenah Diri Akan Tergerus Toko Modern? - Seingat saya masih seperti itu. Era 90-an ketika masih eranya mbah Harto (presiden) kebanyakan toko retail baik kelontong, baju, sepatu dan kebutuhan pokok lainnya masih bergaya tradisional. Untuk toko yang ramai, orang yang mau beli berkerumun di depan etalase toko dan pendagangnya berada di dalam toko, melayani pembeli satu persatu. Pembeli menyebutkan satu per satu barang yang mau dibeli, atau jika banyak maka mereka menyerahkan daftar barang yang akan dibeli dalam secarik kertas kepada penjual. Bagi pembeli, agak lirik lagunya Bang Iwan Fals sangat cocok untuk menghibur diri "sabar-sabar sabar dan tunggu  .....". Yang saya salut itu pedagangnya, begitu hafalnya mereka dengan harga barang yang dibeli baik dalam satuan eceran maupun kartonan atau pack-packan
.
Di jaman itu sebenarnya toko swalayan juga sudah ada tetapi masih baru sebatar kelas supermarket atau hypermarket. Ya, waktu era 90-an seingatku sudah pernah di ajak ke Matahari Solo atau ke Luwes. Bahkan setelah saya menginjakkan kaki ke Jogjakarta tahun 1997 sudah ada swalayan yang telah menggunakan layanan kasir dengan komputer program kasir versi DOS. Itupun masih bisa dihitung dengan jari. Setidaknya disekitar kampus dulu ada Mirota, Vikita, Gading Mas (dulu namanya belum Gading Mas), Pamela dan mungkin saya sudah lupa sehingga tak tersebut. Untuk kelas-kelas swalayan kecil (minimarket) sudah mulai ada meski layanan kasirnya menggunakan Cash register, tapi juga belum banyak.
Pendeknya era dahulu posisi pedagang toko tradisional memiliki gaya pelayanan yang sama. Yakni pembeli disuruh nembung satu-satu dan penjualnya melayani satu-satu juga. Report juga ya bagi pedagangnya, plus sabar menunggu giliran dilayani bagi pembelinya. Belum lagi kalu ada diantara pembeli yang nakal, suka main dosok, datang belakangan karena dosokannya kuat minta dilayani dahulu. Yang membedakan waktu itu mungkin karamahan, kecepatan layanan si penjual. Plus bisa ngutang dan tidak kali ya hehehe.
Mulai tahun 2000-an, atau pasca kejatuhan Rejim Orde Baru kali, perkembangan usaha retail bergaya modern mulai terjadi. Bisa jadi ini buah inovasi para pelaku usaha ketika menghadapi kenyataan perubahan konomi yang waktu itu bisa disebut dalam kondisi krisis moneter. Bukan hanya toko-toko modern yang dikelola dalam manajemen keluarga saja, bahkan toko modern yang berada dalam payung perusahaan tbk pun berkembang bak cendawan di musim penghujan.

> Nasib Toko Retail Tradisional Bila Tak Berbenah Diri Bisa Kehilangan Era Kejayaannya?

Yang jelas jaman telah mengalami perubahan, begitupun manajemen pengelolaan toko mengalami perubahan. Inovasi tata kelola usaha retail pun berkembang. terlebih ketika dukungan teknologi komputer ikut mendukung. Gaya belanja masyarakat pun tergiring ke arah dimana pada pelaku usaha memberikan sesuatu yang berbeda. Dahulu pembeli hanya "nembung" barang yang mau dia beli, sekarang mereka bebas memilih apa yang hendak mereka beli. Tinggal ngukur kantong saja. Kalau dahulu pembeli ke toko untuk urusan mendapatkan barang, sekarang tidak hanya itu. Mereka sekaligus refreshing, jalan-jalan. 
Apakah lantas pengelolaan yang masih bergaya tradisional tergerus?. Bisa jadi iya, bisa jadi tidak. Ada yang terkena dampaknya secara langsung dan fatal, ada yang terkena dampak dengan penurunan pelanggan dan omset, ada yang tidak terpengaruh. Yang dulu berada di posisi jalan raya dan menjadi jujugan orang-orang yang bepergian, mungkin terlibas begitu ada toko-toko modern yang menyediakan kebutuhan orang-orang yang dalam perjalanan. Toko-toko dalam perumahan pun bisa jadi terkena dampak, meskipun masih bisa berjalan. Yang dahulu beli ke toko-toko terdekat, sekarang kalao belanja sekalian jalan-jalan di mall atau supermarket. Apalagi di awal bulan. Untuk keperluan yang agak banyak bisa lari ke minimarket. Untuk keperluan yang sedikit dan malas untuk pergi baru lari ke toko terdekat. setidaknya itu pengalaman saya. 
Yang di pasar bagaimana. Saya tidak tau pasti datanya. Bisa jadi terkena dampak karena adanya perubahan pola atau gaya belanja masyarakat yang berubah oleh kilau toko modern. Tetapi bisa juga mendapatkan ceruk pasarnya sendiri, karena pasar juga masih selalu ramai. Ah Entahlah.